Rabu, 27 April 2016

Cerita Pendek 'RollerCoaster Impianku'

Cerpen 'RollerCoaster Impianku' - Cerpen ini sebenarnya merupakan cerpen tentang negosiasi yang saya tulis demi mengerjakan tugas sekolah. 8 Lembar untuk cerpen negosiasi dan temanya harus tentang negosiasi rollercoaster di hutan, mau nulis apa coba? Yaudah akhirnya jadilah cerpen ini "Rollercoaster Impianku".

Judul : Rollercoaster Impianku
Karya : Jamaluddin

Cerpen Rollercoaster Impianku
Cerpen Rollercoaster Impianku


Rollercoaster Impianku


Pada tahun 2016 di sebuah desa terpencil di Sidoarjo, Jawa Timur. Tinggal lah seorang gadis yang umurnya kurang lebih 14 tahun. yang bernama Dita, ia hidup bersama ibunya. Setiap hari ia membantu ibunya mencuci pakaian di pinggir sungai, sesekali ia memandangi ikan – ikan kecil yang berenang mengikuti derasnya air sungai. “Ingin sekali aku menjadi seperti ikan-ikan itu, bisa berenang bebas tanpa harus memikirkan betapa susahnya mencari uang” Gumamnya dalam hati. Ya! Dita memang terlahir dari keluarga miskin yang mata pencahariannya sebagian besar adalah dari beternak dan bertani.

Setelah ia telah menyelesaikan pekerjaannya. Ia pergi ke dalam sebuah hutan. Sebenarnya bukan hutan, tapi sebidang tanah luas yang terdapat tumbuhan-tumbuhan liar di dalamnya. Dita pergi kesana untuk mencari buah yang nantinya bisa ia makan untuk menghilangkan rasa laparnya. Setelah lama mencari dan tak satu pun ia melihat buah, akhirnya ia pulang dengan perasaan sedih dan perut yang sakit karena kelaparan. Disaat perjalanan pulang, ia dikagetkan karena ada anak kecil yang melemparnya sesuatu “Hei! Apa yang kau lakukan?” “Jangan lari kau!” Teriak Dita kepada anak kecil itu. “Apa ini?” “Seperti kereta, eh mana anak kecil itu tadi? Bodo ah, mending aku bawa pulang saja mainan ini, besok aku kembalikan” Setelah itu Dita langsung pulang ke rumah dengan membawa kereta itu lalu beristirahat.

Keesokan harinya, Dita pergi ke sekolah. Seperti hari hari biasanya, ia berangkat dengan semangatnya untuk belajar agar suatu saat nanti bisa membahagiakan orang tuanya. Sesampai di sekolah, ternyata tidak ada pelajaran pada hari itu, semua siswa sedang berkumpul di halaman sekolah karena adanya seminar tentang “Bisnis Berjualan Cepat Kaya”, Cuma Dita saja yang tidak tahu tentang hal ini dikarenakan dia belum memiliki HP.

Di seminar itu dijelaskan bahwa untuk menjadi kaya dan memulai usaha, tidak perlu berpikir yang aneh aneh, cukup kembangkan apa yang kita punya, apa saja yang ada di sekitar kita, itu bisa menjadi modal untuk memulai bisnis baru. Dita mulai berpikir, selama ini dia punya apa? Dia hanyalah seorang anak yang terlahir di keluarga miskin.

Setelah seminar itu berakhir dan semua siswa telah pulang, Dita masih berada di sekolah dan masih tetap berpikir tentang seminar itu tadi. “Bagaimana caranya aku sukses?” pikirnya dalam hati.

Setelah berpikir panjang dan belum menemukan jawabannya, akhirnya ia pulang. Di perjalanan pulang ia melihat seseorang yang sedang berjualan sepatu di pinggir jalan. Ia mulai mengajak orang tersebut berbincang - bincang guna ingin mendapatkan ilmu berjualan.

Dita : “Selamat siang mas.”

Penjual Sepatu : “Iya siang dek, mau beli sepatu?”

Dita :
“Enggak mas, ini saya cuma mau nanya aja, mas nya gak capek ya jualan sepatu

seharian, apalagi siang – siang gini udaranya panas banget.”

Penjual Sepatu : “Ya enggak lah dek, namanya juga usaha, harus rela panas – panas gini berdagang,

meskipun gaada yang beli ya tetep harus sabar.”

Dita : “Lho? Kalau gaada yang beli terus mas beli makan pakai apa nanti?”

Penjual Sepatu : “Dari tabungan kemarin, misal kemarin ada 3 orang beli sepatu saya, nah itu uangnya

ga langsung saya habisin, tapi saya tabung buat besok, buat jaga jaga kalau ga laku.”

Dita : “Bener juga ya, yaudah mas makasih ya. Saya mau pulang dulu, mungkin ibu saya

sudah nyariin.”

Penjual Sepatu : “Eh dek, Tunggu. Ini ada sepatu bekas punyaku dulu waktu masih SMA, aku lihat

sepatu punya adek kayaknya sudah jelek itu, waktunya ngganti.”

Dita :
“Beneran ini mas?”

(sambil menerima dan mencoba sepatu barunya)

“eh iya, kebetulan pas di aku. Makasih banyak ya mas.”

Penjual Sepatu : “Iya sama sama dek. Ati – ati ya pulangnya.”


Kali ini Dita pulang dengan keadaan gembira karena sepatu barunya, ya meskipun sepatu bekas dan model lelaki, tapi setidaknya sepatu ini lebih baik daripada sepatu miliknya yang dulu. Dita sudah tidak memikirkan lagi tentang seminar tadi.

Sesampai di rumah, Dita langsung tidur karena terlalu lelah, ditambah lagi dia belum makan dari siang tadi. Ia tidur sangat nyenyak hingga tiba – tiba, “Astaga! Apa yang terjadi?” Dita mengalami mimpi buruk dimana pada suatu saat nanti ia akan mati di tembak karena memiliki banyak hutang.

Setelah bangun dan mandi, lagi – lagi ia teringat akan seminar itu tadi. Akhirnya ia mulai mencari ide untuk berjualan sesuatu. Setelah makan, ia pergi meninggalkan rumah mencari sesuatu yang bisa ia lakukan guna mendapatkan uang.

Sesampainya tiba di pasar, ia melihat banyak orang sedang berjualan, ada juga tukang parkir, pengamen, pengemis dan lain sebagainya. Dari yang ia lihat, pekerjaan yang paling mudah ialah mengamen dan mengemis, hanya butuh 15 menit mereka bisa mendapatkan puluhan bahkan ratusan ribu rupiah. Tapi Dita tau, mengemis bukanlan bisnis yang baik apalagi ditambah mereka tidak mau berusaha dan hanya mengandalkan belas kasihan orang lain.

“Hei gadis kecil! Apa yang kau lakukan disana!? Cepat sini bantu aku” Teriak seorang pedagang yang sedang kesusahan mengangkat kardus – kardus berisi telur bebek. Dita pun langsung menolong orang tersebut mengangkat barangnya. “Nah ini buat kamu” “ambil saja buat jajan sekolah” orang tersebut memberikan 10 ribu rupiah kepada Dita. “Terimakasih banyak pak” balasnya.

Sampai disitu Dita tau, kalau menolong orang dia bisa mendapatkan uang. Disinilah akhirnya ia menemukan tempat untuk bekerja. Ia mulai mencoba untuk membantu orang di sekitar pasar, entah itu menyapu, mengangkat barang, membersihkan toko, dll. Ia hanya meminta bayaran seikhlasnya saja. Hingga terkumpul 50 ribu rupiah, akhirnya Dita pulang dengan perasaan senang.

Sesampai di rumah, ia memberikan uang tersebut kepada ibunya dan menceritakan semua kejadian hari ini. Ibunya cukup bangga dengan Dita karena ini adalah pertama kalinya Dita mendapatkan uang dari bekerja, ditambah lagi pekerjaan yang ia lakukan halal dan bermanfaat bagi orang lain.

Keesokan harinya, seperti kemarin, setelah pulang sekolah ia langsung menuju pasar dan mulai membantu orang dengan bayaran seikhlasnya. Kali ini ia pulang dengan membawa 70 ribu di tangannya. Ia amat senang sekali hari ini.

Sudah seminggu ia melakukan pekerjaan itu, hingga akhirnya uangnya terkumpul sekitar 450 ribu. Dia bingung, mau diapakan uang itu. Lagi – lagi ia teringat kembali tentang seminar itu. “untuk menjadi kaya dan memulai usaha, tidak perlu berpikir yang aneh aneh, cukup kembangkan apa yang kita punya, apa saja yang ada di sekitar kita, itu bisa menjadi modal untuk memulai bisnis baru.”. Akhirnya Dita tau mau melakukan apa, setiap hari ia membantu ibunya mencuci baju di sungai, ia melihat ikan ikan berenang di sungai. Seketika itu juga dia lari menuju pasar, dan membeli ikan – ikan segar yang nantinya akan ia jual di sekolah.

Sesampai di rumah ia memberikan 2 ekor ikan kepada ibunya agar dimasak dan di jadikan lauk yang enak untuk dimakan pada malam hari. Dita bercerita kepada ibunya kalau dia ingin berjualan ikan dan meminta doa kepada ibunya. Ibunya pun mendoakannya.

Keesokan harinya, ia akan mulai menjual ikan – ikan itu di sekolah. Saat Dita masuk ke dalam kelas dan mulai mengikuti pelajaran. “Bau amis apa ini?” kata salah satu temannya, “iya, bau amis apa ini? Sahut temannya yang lain. “Dita! Kamu bawa apa itu?” Tanya Bu Guru dengan nada agak tinggi. “Ini bu, saya bawa ikan, mau dijual nanti” jawab Dita. “Aduh aduuuhh.. kamu ini ada ada saja, cepat bawa keluar, baunya mengganggu pelajaran, kasihan itu semua temen sekelas kamu” sentak Bu Guru. “Iya bu” Jawab Dita dengan nada hampir menangis.

Setelah pelajaran berakhir dan memasuki jam istirahat. Dita menawarkan ikan – ikan tersebut kepada teman temannya. Namun sayangnya tak ada satu anak pun yang membeli ikan – ikan itu. Dikarenakan harga ikan yang cukup mahal bagi anak sekolah, ditambah lagi memang tidak ada anak sekolah yang membutuhkan ikan mentah.

Setelah jam pelajaran telah berakhir, bel pulang sekolah berbunyi. Dita pulang dan membawa ikan – ikannya dengan suasana hati yang sangat sedih. Sepanjang perjalanan ia menangis, memikirkan mau diapakan ikan – ikan ini selanjutnya.

Sesampai di rumah ia menceritakan semuanya pada ibunya. Ibunya juga ikut sedih, hingga akhirnya ikan – ikan tersebut diberikan kepada tetangga – tetangga di samping rumahnya.

“Sekarang, aku sudah tidak memiliki uang” pikir Dita dengan sedihnya. “Nak, ini ibu masih simpan uang 50 ribu yang kamu kasih kemarin, uang ini bisa kamu jadikan untuk bisnis usaha baru, mungkin tidak sebanding dengan uangmu yang 450 ribu kemarin, tapi kalau kamu tetap berusaha, pasti ada kesempatan untukmu sukses nanti” ucap ibunya untuk menyenangkan hati Dita.

Akhirnya dia mulai berpikir lagi, ia tidak menyerah untuk berjualan. Kali ini ia berpikir tentang apa yang dibutuhkan teman temannya di sekolah. Setelah lama berpikir akhirnya ia tau harus berjualan apa. Dita mencoba untuk menjual buku dan alat tulis. Tak butuh untung banyak dulu, cukup untung 250 rupiah untuk setiap buku yang ia jual, yang penting laku dulu.

Keesokan harinya ia mulai berjualan buku dan alat tulis, ia mendapat suplai bukunya dari toko yang ada di bagian sudut pasar. Tak banyak yang mengetahui toko ini, namun di toko itu harganya memang murah daripada di koperasi sekolah.

Saat istirahat dia mulai menjual buku – buku tersebut kepada teman – temannya. Dan alhasil apa yang ia dapatkan?, buku bukunya laku habis dibeli teman teman sekelasnya, karena memang harganya lebih murah daripada di koperasi, sehingga hampir sebagian besar teman sekelasnya membeli bukunya, bahkan sampai ada yang memesan 1 lusin buku kepada Dita.

Saat bel pulang sekolah berbunyi, Dita langsung pulang ke rumah. Kali ini dengan hati yang sangat gembira, ia pulang dengan tidak membawa 1 pun sisa dagangan yang tersisa. Ia langsung menuju toko di pasar guna menyiapkan stok buku untuk dijualnya besok. Sesampai di rumah, ia langsung menceritakan semua peristiwa yang terjadi hari ini pada ibunya.

Keesokan harinya, ia mulai berdagang buku lagi di sekolahnya. Namun kali ini ia menjajahkan dagangannya tak hanya di kelasnya saja tapi juga di kelas kelas lain hingga di kelas senior dan juniornya. Dan apa yang ia dapat? Wow! Hari ini ternyata ia lebih sukses dari kemarin, banyak yang memesan buku – buku kepada Dita. Guru – guru di sekolah itu juga kagum kepada Dita, karena ia bisa memikat banyak pelanggan padahal hanya dengan bermodalkan buku tulis.

Tak berhenti sampai disitu, meskipun Dita merasa dirinya sudah sukses dalam berjualan walau untungnya hanya sedikit. Dita memutuskan untuk mencari pekerjaan lain lagi hingga akhirnya ia menemukan salah satu warung di kantin sekolah. Dita menawarkan jasa distribusi minyak yang nantinya ia akan membeli minyak di pasar dan keesokan harinya minyak itu akan diberikan kepada pemilik warung itu. Pemilik warung itu menyetujuinya.

Sepulang sekolah ia membawa 2 kantong plastik besar yang berisi masing – masing 3 botol kosong untuk wadah minyaknya. Ia langsung ke pasar dan membeli 6 liter minyak, agar besok ia bisa langsung memberikan minyak tersebut kepada pemilik warung, dan tak harus bolak – balik ke pasar.

Setelah 1 bulan berlalu dan pekerjaannya cukup mendatangkan banyak uang untuk Dita. Sekarang Dita juga mulai berani berjualan makanan di sekolah yang tentunya ia dapatkan dari pasar, Dita juga mulai memikirkan apa yang teman temannya suka. Jadi apa yang teman temannya suka, ia mulai mencoba untuk menjualnya di sekolah, mulai dari membawa 5 biji dulu, jika tidak laku, maka ia akan mencoba makanan lain.

Setahun dua tahun berlalu, hingga kelulusan ia tetap melakukan pekerjaannya itu. Di SMA barunya yang sekarang ini, ia mengambil jurusan IPA karena ia tau kalau ia sudah bisa berjualan dan tidak perlu lagi mencari ilmu berjualan karena ia sudah bisa. Sekarang waktunya ia serius dan belajar sungguh – sungguh.

Tapi Dita tidak bisa hidup seperti itu, dia masih ingin berjualan, jiwanya adalah jiwa seorang pedagang. Hingga akhirnya ia menemukan cara yaitu dengan membuat Online Shop. Disana ia menggunakan system dropship jadi dia tidak perlu menyuplai barang, cukup melakukan promosi, jika ada yang beli maka penjualan akan diteruskan ke suppliernya, biar supplier yang melakukan suplai barang dan packing serta pengiriman, dan barang tersebut akan dikirim atas nama pengirim Dita.

Dimulai dari orderan pertama, awalnya Dita agak bingung namun akhirnya terbiasa. Tak sedikit complain yang ia terima, mulai dari barang yang ia jual ternyata tidak awet, pada pengiriman di kurirnya agak telat dan sampai – sampai ia dituduh penipu karena barangnya telat sampainya.

Namun Dita tidak menyerah, ia tetap terus menjalankan bisnis itu karena memang itulah satu satunya bisnis yang ia pikirkan yang memang tidak mengganggu sekolahnya.

Orderan dan orderan lagi. Banyak sekali orderan yang ia dapatkan hingga akhirnya ia memiliki banyak uang. Ada sekitar 150 pelanggan tetap yang Dita miliki, dan tentunya terus bertambah. Dari awalnya ia dituduh penipu hingga sampai banyak orang yang me-recommended-kan toko onlinenya.

Kelulusan hampir tiba, ia belajar semalaman agar keesokan harinya dapat mengikuti UN dengan lancar dan berharap mendapatkan nilai yang memuaskan.

Namun, saat pengumuman nilai telah tiba, Dita agak kecewa karena ia mendapatkan nilai yang pas – pasan, berbeda dengan teman – teman kelasnya yang mendapat nilai sangat tinggi dan hampir mendekati sempurna.

Sekarang Dita bingung, apa yang harus ia lakukan. Ia tidak akan diterima kuliah di kampus yang selama ini ia impikan. Kalaupun mencoba, pasti akan ditolak dan gagal.

Ia melihat teman – temannya, sebagian dari mereka ada yang melanjutkan sekolah, ada juga yang langsung kerja di pabrik, dan ada juga yang memulai wirausaha. Seketika dia teringat, dia sudah memiliki usaha, dia sudah sukses sebelum teman – temannya. Akhirnya Dita pulang dari sekolahnya dengan suasana hati yang sedikit bingung.

“Mau kerja apa aku ini?” pikir Dita dalam hati. “Apa bisa kalau aku mendirikan sebuah restoran atau cafĂ©?” pikirnya lagi. Dengan modal seadanya, ia mulai menyewa tempat dan mendirikan sebuah warung makan kecil – kecilan yang penting enak dan murah. Karena ia memiliki pengalaman dan strategi dagang, ia mulai menyewa tempat di depan pabrik sepatu dan membuka warungnya.

Karena masih belum mampu menyewa karyawan tetap, Dita memutuskan untuk mengajak teman-temannya dulu untuk bekerja di warung makan barunya. Teman – temannya dengan senang hati menerima tawarannya untuk bekerja, karena kebetulan juga sebagian besar dari teman Dita masih belum memiliki pekerjaan.

Disana ia menjual nasi ayam, penyetan, bebek goreng, dll. Awal hari buka, warungnya cukup ramai apalagi pada waktu pulang jam kerja. Tak jarang semua makanan di warung itu habis di lahap pelanggan, karena masih dalam keadaan promosi, jadi harga makanan disana dibuat murah, wajar kalau orang pada beli disana.

Empat bulan sampai lima bulan berlalu, akhirnya Dita bisa memperoleh keuntungan yang dapat menutupi harga sewa tempat dan modalnya untuk membangun warung. Dan kini dia sudah memiliki karyawan tetap yang tentunya sudah bisa ia gaji dari penghasilan warungnya itu.

Dita sebenarnya cukup kewalahan karena tak hanya mengurusi warungnya, dia juga masih menjalankan bisnis online shopnya, belum lagi ditambah membantu ibunya bekerja.

Hingga 3 tahun lamanya Dita menekuni bisnis warung makan, akhirnya ia berani membuka cabang baru di tempat lain. Dan sekarang, dia memiliki 2 manager untuk kedua warungnya tersebut. Jadi sekarang yang mengurus warung itu bukanlah Dita lagi, namun managernya, Dita hanya bertugas mengawasi dan menghitung keuangan seperti pemasukan dan modal yang di keluarkan untuk stok bahan makanan.

Dita juga sudah mampu membeli rumah baru di tengah kota yang nantinya Dita dan ibunya akan pindah kesana. Dita menyuruh ibunya istirahat saja di rumah dan jangan melakukan hal – hal yang dapat membuat lelah. Karena ditakutkan terjadi apa – apa, Dita menyewa pembantu guna untuk mengerjakan tugas – tugas ibunya sebelumnya, dan juga agar bisa merawat ibunya.

Rumah barunya cukup bagus, dengan ukuran 8x18, dua lantai, 4 kamar tidur, 2 kamar mandi, ruang keluarga, dapur, dan taman kecil yang indah di halaman depan rumah. Dengan cat berwarna abu-abu dan kuning membuat rumahnya tampak elegan dan modern.

“Bisnis udah, rumah udah. Oh iya, mumpung penghasilan sudah jelas, lebih baik aku melanjutkan sekolahku sampai Sarjana” gumam Dita. Dia mulai mencari kampus swasta di daerah sekitar rumahnya, rencananya dia akan memilih jurusan ekonomi, karena memang hanya itulah yang ia bisa.

Awal dia mulai menjadi mahasiswa, dia melihat banyak sekali anak muda yang bisa dibilang baru lulus SMA. Suatu ketika tanpa sadar dia mendengar percakapan antar sesama lelaki.

Laki – Laki 1 : “Udahlah bro, ngapain lo jualan lemper dan roti – roti macam itu di kampus ini, lagian

sampe lo lulus, lo ga bakal bisa beli motor seperti motor gue.”

Laki – Laki 2 : “Aku ga ingin motor sepertimu, aku cuma ingin membantu orangtuaku, meringankan

beban orangtuaku dengan berjualan, asal ini halal maka akan kulakukan.”

Laki – Laki 1 : “Halah, kebanyakan nonton sinetron lo, dimana – mana alasannya pengen bantu

orang tua, bilang aja kalau lo sebenernya pengen …”

Dita : “Cukup!! Ada apa ini, ayo pergi dari sini”

(seketika Dita memotong obrolan tersebut dan menarik tangan anak penjual itu)

Dita : “Kamu diapain tadi sama dia?”

Laki – Laki 2 : “Gapapa kok kak, dia cuma bilang aku ini penjual roti dan ga mampu beli motor

seperti Dia.”

Dita : “Oh gitu ya, hahaha!”

Laki – Laki 2 : “Kenapa kakak ketawa, aku sedih di ejek sama dia, dan kakak malah ketawa”

Dita : “Enggak, bukan gitu. Dulu aku sama seperti kamu, aku dulu pernah jualan waktu

masih SMP, aku juga pernah rugi besar gara – gara jualanku ga laku, diejek teman –

teman, dimarahin guru, hingga akhirnya sekarang aku punya 2 warung hasil jerih

payahku sendiri. Jadi kamu sabar aja ya. Sini kakak bantu jualin daganganmu. Oh iya

ngomong – ngomong, nama kamu siapa?”

Laki – Laki 2 : “Namaku Deni. Makasih banyak ya kak. Kakak namanya siapa?”

Dita : “Namaku Dita, salam kenal ya.”

Dita pun membantu Deni berjualan rotinya. Dita juga berani menawarkan roti – roti tersebut kepada dosen – dosen yang ada di kampus itu. Berbeda dengan Deni, jika Dita yang berjualan, kurang dari 30 menit semua rotinya langsung habis. Wajar lah, pemula vs master, jelas Dita pemenangnya.

“Widiihh.. jualanku abis nih, makasih ya kak. Nih untuk kakak” ucap Deni sambil memberikan uang 20 ribu kepada Dita. “Gausah dek simpen aja, kakak udah punya lebih kok” jawab Dita, “Oh iya, kamu mau gak kalau kakak tawarin kerja di Online shop kakak? Kakak udah bosen nih. Untungnya lumayan loh” tawar Dita. “Mau kak, gimana caranya? Nanti diajarin kan?” Tanya Deni, “Yaiyalah pasti” balas Dita.

Dita pun memberikan online shopnya secara cuma – cuma kepada Deni, karena melihat Deni berdagang, Dita jadi ingat masa lalunya, itu semua mengingatkannya dengan masa – masa pahitnya terjun di dunia perdagangan. Meski Dita memberikan hak penuh atas online shopnya kepada Deni, namun ia juga tetap mengawasinya, dikarenakan Deni juga masih pemula dan masih belum tau apa – apa.

Setelah sekian tahun, akhirnya Dita memperoleh gelar S2. Kini ilmunya sudah semakin luas dalam hal perdagangan. Tabungannya dari bisnis warung juga semakin banyak, hingga akhirnya kedua warung tersebut sudah menjadi restoran yang sangat besar dan mewah. Rumah Dita juga semakin luas, dia membeli rumah di samping kanan dan kiri rumahnya, dan dijadikan satu rumah besar.

Hingga pada akhirnya ia teringat akan rumah lamanya yang telah lama ia tinggalkan. Dita mengajak Deni pergi kesana untuk melihat – lihat. Di rumah itu masih banyak barang – barang yang ditinggalkan selepasnya ia berpindah rumah.

Sesampai disana, rumah itu sudah berubah, banyak atap – atap yang roboh, kayu – kayu yang rapuh dimakan rayap, dan ketika ia memasuki kamarnya, ia melihat sebuah kereta. Dita merasa dia tidak pernah memiliki mainan tersebut, hingga akhirnya Deni masuk dan berteriak “Kereta kesayanganku! Kenapa bisa ada disini?”. Akhirnya Dita mulai ingat dengan kereta itu, itu adalah kereta yang dilemparkan oleh anak kecil waktu dia habis pulang dari hutan. “Oh jadi kamu yang waktu itu melemparku dengan kereta ini?” ucap Dita dengan nada agak tinggi. “Ntahlah kak, aku tidak ingat, waktu kecil aku mencari mainan kesayanganku ini kemana – mana, tapi tetap saja aku tidak menemukannya” balas Deni.

Gara – gara teringat tentang kereta itu, Dita jadi ingin membuka sebuah pasar malam. Dengan modal yang cukup akhirnya ia memutuskan untuk membeli sebidang tanah luas yang sampai sekarang ia menyebutnya sebagai hutan. Dita dan Deni mulai mencari informasi mengenai tanah tersebut. Hingga akhirnya ia mengetahui bahwa tanah tersebut adalah milik pemerintah. Tanah itu sengaja dibiarkan kosong dan ditanami banyak tumbuhan agar tetap menjadi penghasil oksigen dan sebagai paru – paru dunia.

Setelah mendapatkan informasi yang cukup, akhirnya Dita dan Deni memberanikan diri untuk bernegosiasi dengan pemerintah daerah setempat. Butuh waktu sekitar 3 bulan untuk dapat bertemu dan melakukan negosiasi, dikarenakan pemerintahan pada saat itu sangat sibuk sekali akibat krisis ekonomi daerah.

Pada tanggal 16 Oktober 2025, saat itu adalah tanggal dimana Dita dan Deni akan melakukan negosiasi, segala sesuatu telah mereka persiapkan. Karena jika sampai gagal atau ditolak, maka mereka harus menunggu 3 bulan lagi untuk dapat bernegosiasi dengan pemerintah.

Kini mereka sudah sampai di gedung pemerintahan daerah dan langsung disambut oleh petugas setempat dan dipersilakan masuk ke ruangan yang sudah ditentukan. Kepala pemerintahan tersebut bernama Budi. Orangnya kira – kira sudah kepala lima. Proses negosiasi pun dimulai.

Bapak Budi : “Silakan duduk Tuan dan Nyonya”

Deni & Dita : “Terimakasih Pak”

(mereka berdua duduk)

Bapak Budi : “Saya mendengar bahwa Anda ingin membeli tanah yang ada di desa pinggir sungai itu,

apakah benar?”

Dita : “Iya benar pak, rencananya kami ingin membeli tanah seluas 2 hektar itu dan akan

kami jadikan taman bermain.”

Bapak Budi : “Itu adalah tanah sebagai sumber oksigen dan paru – paru dunia, jika dijadikan

taman bermain maka tidak ada lagi yang hijau di daerah Sidoarjo ini, semua daerah

disini sudah tandus kecuali tanah itu. Ekonomi di daerah ini juga semakin buruk.”

Dita : “Maka dari itu disini kita melakukan negosiasi. Kami memiliki modal yang cukup

Untuk membeli tanah dan membangun taman bermain. Sebagian omset atau

pemasukan akan kami sumbangkan kepada pemerintahan setempat untuk

mengatasi krisis ekonomi di daerah ini. Dan rencananya kami akan membangun

taman bermain bertemakan alam. Bapak tidak perlu khawatir masalah paru – paru

dunia, kami akan mengajak pengunjung agar dapat melestarikan alam. Jadi

bagaimana menurut Bapak?”

Bapak Budi : (diam tanpa kata selama sekitar 1 menitan)

“Deal!”

“Yeaayy” teriak Dita dalam hati. Deni dan Dita pulang dengan perasaan sangat senang. Ketika sertifikat hak milik tanah sudah didapat. Mereka berdua langsung mengerjakan proyeknya. Dimulai dari mencari orang untuk pembangunan, mencari supplier bahan material yang murah dan bagus, hingga menebang semua pohon liar dan nantinya akan ditanami pohon – pohon yang tertata rapi dan indah.

Selama 1 tahun pembangunan, akhirnya proyek taman bermainnya telah dibuka dan diresmikan. Mereka berdua menamakannya “D’D’ RollerCoaster”, DD yang artinya Dita dan Deni, dan Rollercoaster adalah sebuah kereta luncur yang idenya di dapat dari kereta mainan yang dilemparkan Deni kepada Dita waktu mereka masih kecil.

Di awal grand opening. Mereka memberikan tiket masuk gratis bagi semua orang. Tak lupa mereka berdua juga mengajak semua keluarga dan saudara – saudaranya. Tamat.


Itulah Cerita Pendek yang berjudul Rollercoaster Impianku. Apabila Anda ingin mendownload Cerpennya untuk presentasi atau tugas di microsoft word atau pdf, silakan download di https://drive.google.com/file/d/0B9UGFKff4F_RdXRoU1hTWGFpaHM/view?usp=sharing. Sekian untuk artikel ini, apabila ada kesalahan dalam penulisan kata, saya mohon maaf. Terimakasih.

Artikel Terkait

Cerita Pendek 'RollerCoaster Impianku'
4/ 5
Oleh